Pada akhir Fase A Peserta didik mengenal dan memahami cerita rakyat sebagai bagian dari budaya daerah Lampung melalui kegiatan menyimak, membaca, mengamati gambar, menceritakan kembali, serta mengidentifikasi tokoh, tempat, dan pesan dalam cerita. Peserta didik menunjukkan sikap menghargai budaya daerah, bekerja sama, percaya diri, dan mampu mengambil nilai-nilai positif dari cerita rakyat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Pembelajaran
:
·
Mengenal cerita rakyat yang berasal dari daerah Lampung.
Menyebutkan judul dan asal daerah cerita rakyat Lampung yang didengar atau dibaca.
Mengidentifikasi tokoh, tempat kejadian, dan peristiwa sederhana dalam cerita.
Menceritakan kembali isi cerita rakyat Lampung dengan bahasa sederhana.
üMindfull (Berkesadaran)
:
Peserta didik mengikuti kegiatan menyimak cerita rakyat Lampung dengan penuh perhatian dan kesadaran. Guru mengajak peserta didik untuk fokus mendengarkan cerita, memperhatikan gambar atau tayangan, serta mengenali tokoh dan peristiwa yang terdapat dalam cerita.
üMeaningfull (Bermakna)
:
Peserta didik menghubungkan cerita rakyat Lampung dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Peserta didik memahami bahwa cerita rakyat bukan hanya cerita untuk didengarkan, tetapi juga merupakan bagian dari budaya yang perlu dikenal, dihargai, dan dilestarikan.
üJoyful
(Menyenangkan)
:
Peserta didik belajar cerita rakyat Lampung melalui kegiatan yang menyenangkan, aktif, kreatif, dan melibatkan kerja sama dengan teman.
AlurnTujuan Pembelajaran
Pengenalan dan Identifikasi Konsep Dasar (Fase Awal)
:
Pada tahap ini, Peserta didik mengenal makna sikap peduli dalam kehidupan sehari-hari.
Pada zaman dahulu, di sebuah daerah yang indah di Lampung, hiduplah masyarakat yang hidup rukun. Mereka bekerja sebagai petani dan selalu menjaga lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
Suatu hari, datanglah seorang kakek yang sedang berjalan jauh. Ia terlihat lelah dan membutuhkan makanan serta tempat untuk beristirahat.
Kakek itu datang ke sebuah rumah dan meminta sedikit makanan. Namun, beberapa orang menolak untuk membantunya.
Ada seorang anak yang merasa kasihan kepada kakek tersebut. Anak itu kemudian memberikan makanan dan minuman yang dimilikinya.
“Terima kasih, Nak. Kamu memiliki hati yang baik,” kata kakek itu.
Setelah beristirahat, kakek tersebut melanjutkan perjalanan. Sebelum pergi, ia berpesan kepada masyarakat agar selalu saling membantu, berbagi, dan tidak bersikap sombong.
Tidak lama kemudian, terjadi peristiwa besar. Air keluar dari tanah dan mengalir semakin banyak. Air tersebut memenuhi daerah di sekitar tempat tinggal masyarakat hingga membentuk sebuah danau yang sangat luas.
Masyarakat kemudian menyebutnya Danau Ranau.
Danau Ranau memiliki pemandangan yang indah. Airnya jernih dan dikelilingi oleh alam yang hijau.
Sejak saat itu, masyarakat belajar untuk selalu berbuat baik kepada orang lain dan menjaga lingkungan.
Pesan Moral
Dari cerita tersebut, kita dapat belajar:
Kita harus saling membantu.
Kita harus berbagi dengan orang yang membutuhkan.
Kita tidak boleh sombong dan meremehkan orang lain.
Kita harus menjaga alam dan lingkungan.
Kebaikan yang kita lakukan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Murid dan guru bersama sama membuat karya pop up book tentang cerita rakyat lampung berikut cara membuat pop up book
Kesimpulan
Cerita rakyat Asal Usul Danau Ranau merupakan salah satu cerita yang mengenalkan kekayaan budaya daerah Lampung. Cerita ini mengajarkan kita untuk selalu berbuat baik, peduli kepada orang lain, suka membantu, mau berbagi, dan tidak bersikap sombong.
Melalui cerita Danau Ranau, kita juga belajar untuk menghargai dan melestarikan budaya daerah. Sebagai anak Indonesia, kita dapat menunjukkan rasa bangga terhadap budaya Lampung dengan mengenal, menceritakan, dan menjaga cerita rakyat sebagai warisan budaya.
Pesan utama: "Jadilah anak yang baik, suka menolong, mau berbagi, dan menghargai budaya daerah."
Pada akhir Fase A Peserta didik mampu mengenal dan memahami pentingnya sikap peduli terhadap diri sendiri, orang lain, lingkungan, dan kepentingan bersama. Peserta didik menunjukkan perilaku peduli melalui tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti membantu teman, menjaga kebersihan, berbagi, menghargai orang lain, serta menjaga fasilitas bersama sebagai bagian dari pembentukan karakter antikorupsi.
Tujuan Pembelajaran
:
·
Menjelaskan pengertian sederhana tentang sikap peduli.
Mengidentifikasi contoh perilaku peduli dan tidak peduli di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar.
Menjelaskan manfaat menerapkan sikap peduli terhadap orang lain dan lingkungan.
Menunjukkan sikap peduli melalui kegiatan membantu teman, menjaga kebersihan, berbagi, dan menjaga fasilitas bersama.
Membiasakan perilaku peduli dalam kehidupan sehari-hari sebagai wujud karakter antikorupsi.
üMindfull (Berkesadaran)
:
Peserta didik menyadari pentingnya memperhatikan keadaan orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Peserta didik belajar mengenali perasaan dan kebutuhan teman, kemudian berpikir sebelum bertindak dengan menunjukkan sikap peduli, membantu, berbagi, dan menjaga lingkungan.
üMeaningfull (Bermakna)
:
Peserta didik menghubungkan sikap peduli dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti membantu teman yang kesulitan, menjaga kebersihan kelas, merawat tanaman, berbagi alat belajar, dan menjaga fasilitas bersama. Peserta didik memahami bahwa kepedulian membuat kehidupan bersama menjadi lebih nyaman, aman, dan harmonis.
üJoyful
(Menyenangkan)
:
Peserta didik belajar tentang kepedulian melalui kegiatan yang menyenangkan seperti bermain peran, mengamati gambar, permainan “Aku Anak Peduli”, cerita pendek, kerja kelompok, dan kegiatan membuat kartu kebaikan. Peserta didik diberi kesempatan untuk bergerak, berdiskusi, bekerja sama, dan menceritakan pengalaman peduli dengan suasana belajar yang menyenangkan.
AlurnTujuan Pembelajaran
Pengenalan dan Identifikasi Konsep Dasar (Fase Awal)
:
Pada tahap ini, Peserta didik mengenal makna sikap peduli dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta didik mengidentifikasi perilaku peduli dan tidak peduli.
Peserta didik memahami pentingnya peduli terhadap orang lain.
Peserta didik menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.
Peduli adalah sikap memperhatikan keadaan orang lain, lingkungan, dan sesuatu yang menjadi tanggung jawab kita. Anak yang peduli mau membantu, berbagi, menjaga, dan menghargai orang lain.
Contohnya:
Peduli kepada teman.
Peduli kepada keluarga.
Peduli terhadap kebersihan lingkungan.
Peduli terhadap barang milik bersama.
Peduli terhadap aturan dan ketertiban.
B. Mengapa Kita Harus Peduli?
Sikap peduli penting karena kita hidup bersama orang lain. Dengan peduli, kita dapat:
Membantu orang yang membutuhkan.
Membuat teman merasa senang dan dihargai.
Menjaga lingkungan tetap bersih dan nyaman.
Menjaga barang milik bersama.
Menciptakan suasana yang rukun dan aman.
Belajar bertanggung jawab terhadap kepentingan bersama.
C. Contoh Sikap Peduli di Sekolah
Situasi
Sikap Peduli
Teman lupa membawa pensil
Meminjamkan pensil jika memiliki lebih
Melihat sampah di lantai
Memungut dan membuangnya ke tempat sampah
Buku perpustakaan berserakan
Membantu merapikannya
Teman kesulitan memahami pelajaran
Membantu dengan cara yang baik
Tanaman kelas mulai layu
Membantu menyiramnya
Melihat meja dan kursi berantakan
Membantu merapikannya
Menemukan barang milik teman
Mengembalikannya kepada pemilik
D. Peduli Bukan Hanya kepada Teman
Kepedulian dapat ditunjukkan kepada:
👨👩👧 Keluarga Membantu orang tua, merapikan mainan, dan menjaga kebersihan rumah.
👫 Teman Menolong teman yang kesulitan, berbagi, dan tidak mengejek.
🏫 Sekolah Menjaga kebersihan kelas dan merawat fasilitas sekolah.
🌱 Lingkungan Tidak membuang sampah sembarangan dan menjaga tanaman.
📚 Barang Bersama Menggunakan buku, meja, kursi, dan alat sekolah dengan baik.
E. Peduli dan Nilai Antikorupsi
Sikap peduli berkaitan dengan karakter antikorupsi karena kita belajar untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri. Kita juga harus memperhatikan hak orang lain dan kepentingan bersama.
Misalnya:
Tidak mengambil barang milik teman.
Tidak merusak fasilitas bersama.
Mau berbagi dengan adil.
Menggunakan barang milik bersama sesuai kebutuhan.
Mengembalikan barang yang bukan milik kita.
Membantu menjaga lingkungan sekolah.
Dengan demikian, sejak kecil peserta didik belajar menjadi pribadi yang jujur, bertanggung jawab, disiplin, dan peduli.
F. Cerita Pendek: “Rani Anak Peduli”
Suatu pagi, Rani melihat banyak kertas berserakan di lantai kelas. Rani tidak membiarkannya. Ia mengambil kertas-kertas tersebut dan membuangnya ke tempat sampah.
Tidak lama kemudian, Rani melihat Siti kesulitan membawa beberapa buku. Rani segera membantu membawakan sebagian buku tersebut.
Guru memuji Rani karena telah menunjukkan sikap peduli.
Rani berkata, “Saya senang membantu karena kelas menjadi bersih dan teman menjadi lebih ringan pekerjaannya.”
Pesan cerita: Kita dapat menunjukkan kepedulian melalui hal-hal sederhana. Tidak perlu menunggu menjadi orang dewasa untuk berbuat baik.
G. Ayo Kita Bedakan!
Perilaku Peduli 👍
Membantu teman.
Menjaga kebersihan.
Berbagi.
Mengembalikan barang yang ditemukan.
Merawat fasilitas sekolah.
Perilaku Tidak Peduli 👎
Membiarkan teman kesulitan.
Membuang sampah sembarangan.
Merusak barang bersama.
Mengambil barang teman.
Tidak mau menjaga kebersihan.
H. Ayo Berlatih
1. Pilih perilaku yang menunjukkan sikap peduli!
a. Membantu teman yang jatuh. b. Membuang sampah di halaman. c. Merusak buku perpustakaan.
Jawaban: a.
2. Jika melihat sampah di kelas, sebaiknya kita .... Jawaban: mengambil dan membuangnya ke tempat sampah.
3. Jika menemukan pensil milik teman, kita harus .... Jawaban: mengembalikannya kepada pemilik.
4. Sebutkan dua contoh sikap peduli di sekolah! Jawaban: membantu teman dan menjaga kebersihan kelas.
I. Kesimpulan
Peduli berarti memperhatikan, membantu, menjaga, dan menghargai orang lain serta lingkungan. Sikap peduli dapat dimulai dari hal-hal sederhana setiap hari. Anak yang peduli akan menjaga hak orang lain, merawat lingkungan, dan menggunakan fasilitas bersama dengan bertanggung jawab.
🌟 Pesan untuk Peserta Didik
“Aku anak peduli. Aku mau membantu, berbagi, menjaga kebersihan, dan menghargai hak orang lain.”
ASSESSMENT
LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)
Pertemuan 1: Mengenal Sikap Peduli terhadap Teman
Nama
...............................................
Kelas
II (Dua)
Tanggal
...............................................
Petunjuk Pengerjaan:
●Amati setiap gambar situasi di bawah ini bersama kelompokmu.
●Beri tanda centang (✓) pada gambar yang menunjukkan sikap peduli.
●Tuliskan alasanmu pada kolom yang tersedia.
No
Gambar/Situasi
Peduli (✓)
Alasan
1
Teman terjatuh dan menangis, aku membantunya berdiri.
2
Ada teman lupa membawa pensil, aku meminjamkannya.
3
Aku melihat teman kesulitan, tetapi aku pergi bermain sendiri.
4
Teman terlihat sedih, aku menghampiri dan menanyakan keadaannya.
Soal Esai: Sikap Peduli
Petunjuk: Jawablah pertanyaan berikut dengan kalimat sederhana dan jelas!
Apa yang dimaksud dengan sikap peduli?
Sebutkan dua contoh sikap peduli kepada orang tua di rumah!
Apa yang kamu lakukan jika melihat temanmu kesulitan membawa buku?
Mengapa kita harus peduli kepada teman?
Jika ada teman yang tidak mempunyai pensil, apa yang dapat kamu lakukan?
Sebutkan dua contoh sikap peduli terhadap lingkungan sekolah!
Apa yang kamu lakukan jika melihat sampah berserakan di kelas?
Bagaimana sikapmu jika ada teman yang sedang sedih?
Mengapa kita harus membantu orang lain dengan ikhlas?
Ceritakan satu pengalamanmu ketika kamu peduli dan membantu orang lain!
Kesimpulan
Peduli adalah sikap memperhatikan, membantu, dan menjaga orang lain serta lingkungan sekitar. Sikap peduli dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana, seperti membantu teman, berbagi, menjaga kebersihan, merawat fasilitas sekolah, dan mengembalikan barang yang bukan milik kita.
Dengan membiasakan sikap peduli sejak dini, kita belajar menjadi anak yang jujur, bertanggung jawab, disiplin, dan menghargai hak orang lain. Sikap peduli merupakan salah satu bagian penting dalam membangun karakter antikorupsi.
Pesan: 🌟 “Aku anak peduli, aku senang membantu, berbagi, dan menjaga milik bersama.”
Pada akhir Fase A, Menunjukkan
pemahaman dan memiliki intuisi bilangan (number sense) pada bilangan cacah
sampai 100; membaca, menulis, menentukan nilai tempat, membandingkan,
mengurutkan, serta melakukan komposisi (menyusun) dan dekomposisi (mengurai)
bilangan; melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan menggunakan benda-benda
konkret yang banyaknya sampai 20; dan menunjukkan pemahaman pecahan sebagai
bagian dari keseluruhan melalui konteks membagi sebuah benda atau kumpulan
benda sama banyak (pecahan yang diperkenalkan adalah setengah dan seperempat).
Tujuan Pembelajaran
:
·Melakukan
operasi pengurangan menggunakan benda-benda konkret yang banyaknya sampai 100
üMindfull (Berkesadaran)
:
Peserta didik diajak untuk fokus, teliti, dan menyadari proses pengurangan yang dilakukan menggunakan benda konkret.
üMeaningfull (Bermakna)
:
Peserta didik menghubungkan operasi pengurangan dengan situasi yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari.
üJoyful
(Menyenangkan)
:
Peserta didik belajar pengurangan melalui permainan dan aktivitas kelompok yang menyenangkan.
AlurnTujuan Pembelajaran
Pengenalan dan Identifikasi Konsep Dasar (Fase Awal)
:
Melakukan operasi
pengurangan menggunakan benda-benda konkret yang banyaknya sampai 100
Al-Khaliq (Maha Pencipta): Allah SWT menciptakan berbagai benda yang dapat kita gunakan untuk belajar, seperti buah, pensil, stik es krim, dan benda lainnya. Kita harus bersyukur atas ciptaan Allah SWT dengan menggunakan benda-benda tersebut dengan baik dan tidak menyia-nyiakannya. Dalam pembelajaran pengurangan, peserta didik menggunakan benda konkret untuk memahami bahwa ketika sebagian benda diambil, jumlahnya menjadi lebih sedikit.
Al-'Alim (Maha Mengetahui): Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Oleh karena itu, kita harus belajar dengan sungguh-sungguh, teliti, dan tidak mudah menyerah. Saat melakukan operasi pengurangan, peserta didik menghitung benda dengan cermat, misalnya dari 50 benda diambil 20 benda, maka tersisa 30 benda. Peserta didik belajar bahwa ketelitian membantu memperoleh jawaban yang benar.
Ar-Raqib (Maha Mengawasi): Allah SWT Maha Mengawasi setiap perbuatan kita. Karena itu, kita harus jujur dan bertanggung jawab dalam belajar, termasuk ketika menghitung benda dan menuliskan hasil pengurangan. Peserta didik tidak menyontek jawaban teman dan berusaha menghitung sendiri dengan benar. Sikap jujur dan bertanggung jawab dapat diterapkan saat bekerja secara individu maupun bersama kelompok.
Operasi pengurangan bilangan 50 – 100
A. Pengertian Pengurangan
Pengurangan adalah kegiatan mengambil sebagian dari suatu jumlah benda sehingga jumlahnya menjadi lebih sedikit.
Tanda pengurangan adalah −.
Contoh: 70 − 20 = 50
Artinya, dari 70 benda diambil 20 benda, sehingga tersisa 50 benda.
B. Pengurangan Menggunakan Benda Konkret
Kita dapat menggunakan benda di sekitar sebagai alat bantu, seperti:
Stik es krim
Tutup botol
Kancing
Pensil
Balok
Kartu bilangan
Contoh:
Rina mempunyai 65 stik es krim.
Sebanyak 15 stik diberikan kepada temannya.
Maka:
65 − 15 = 50
Jadi, stik es krim Rina yang tersisa adalah 50 stik.
C. Pengurangan Puluhan
Pengurangan puluhan dapat dilakukan dengan mengurangi bagian puluhannya.
Contoh:
80 − 30 = ...
80 terdiri dari 8 puluhan.
30 terdiri dari 3 puluhan.
8 puluhan − 3 puluhan = 5 puluhan.
Jadi:
80 − 30 = 50
D. Pengurangan Bilangan Dua Angka
Untuk menghitung pengurangan, kita dapat menggunakan nilai tempat puluhan dan satuan.
Contoh:
76 − 24 = ...
Puluhan
Satuan
7
6
2
4
5
2
Jadi:
76 − 24 = 52
Caranya:
6 satuan − 4 satuan = 2 satuan
7 puluhan − 2 puluhan = 5 puluhan
Hasilnya = 52
E. Pengurangan dengan Meminjam
Jika angka satuan yang dikurangi lebih kecil, kita dapat melakukan peminjaman 1 puluhan menjadi 10 satuan.
Ayah mempunyai 90 buah jeruk.
Sebanyak 35 buah jeruk diberikan kepada tetangga.
Berapa jeruk yang tersisa?
90 − 35 = 55
Jadi, jeruk yang tersisa adalah 55 buah.
G. Latihan
Hitunglah dengan benar!
60 − 20 = ....
75 − 25 = ....
80 − 30 = ....
95 − 40 = ....
68 − 24 = ....
72 − 31 = ....
84 − 26 = ....
63 − 18 = ....
91 − 35 = ....
100 − 45 = ....
Kesimpulan
Pengurangan adalah kegiatan mengambil sebagian dari suatu jumlah. Bilangan 50 sampai 100 dapat dikurangi dengan menggunakan benda konkret, gambar, atau cara bersusun. Dalam melakukan pengurangan, kita perlu menghitung dengan teliti, memahami nilai tempat puluhan dan satuan, serta memeriksa kembali hasilnya.